Banda Aceh – Sosok perempuan muda energik dan penuh kharisma itu kembali mencuri perhatian publik. Diana Putri Amelia, anggota DPRA termuda dari Daerah Pemilihan Bener Meriah–Aceh Tengah (Takengon), menunjukkan bahwa pengabdian kepada rakyat tidak hanya diwujudkan melalui ruang sidang dan rapat parlemen, tetapi juga melalui pembentukan karakter, kedisiplinan, serta ketangguhan diri.
Di tengah padatnya agenda sebagai wakil rakyat, Diana tetap menyempatkan diri berolahraga menembak bersama Brimob Polda Aceh pada 10 Juni 2026. Bagi Diana, olahraga menembak bukan sekadar aktivitas fisik atau hobi semata, melainkan sarana melatih fokus, ketenangan, disiplin, dan ketepatan dalam mengambil keputusan—nilai-nilai yang juga dibutuhkan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Dalam filosofi etika senjata api, terdapat prinsip keselamatan yang menanamkan sikap tanggung jawab penuh: selalu menganggap senjata dalam keadaan terisi. Filosofi ini menurut Diana memiliki makna mendalam dalam kehidupan dan pengabdian, yakni selalu berhati-hati, penuh perhitungan, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan dan keputusan yang diambil, terutama ketika menyangkut kepentingan rakyat.
Prinsip tersebut pula yang menjadi fondasi Diana dalam menjalankan amanah sebagai anggota DPRA. Dengan slogan “Melayani Tanpa Pamrih”, Diana dikenal aktif menyerap aspirasi masyarakat, mulai dari persoalan pembangunan daerah, pendidikan, hingga kebutuhan para petani kopi di dataran tinggi Gayo yang selama ini menjadi denyut utama ekonomi masyarakat di wilayah dapilnya.
Bagi Diana, kesejahteraan petani kopi bukan sekadar isu ekonomi, tetapi bagian dari perjuangan menjaga identitas dan martabat masyarakat Gayo. Karena itu, ia terus berupaya menghadirkan solusi konkret melalui komunikasi intensif dengan pemerintah, memperjuangkan infrastruktur pertanian, serta memastikan suara masyarakat kecil tetap terdengar di ruang kebijakan.
Semangat perjuangan perempuan-perempuan tangguh Aceh seperti Laksamana Malahayati, Tjoet Nyak Meutia, Tjoet Nja’ Dhien, Pocut Meuligoë, Pocut Meurah Gambang, Pocut Baren, hingga Pocut Meurah Intan, menjadi inspirasi besar dalam perjalanan pengabdian Diana. Ketangguhan para srikandi Aceh itu dinilai menjadi warisan moral yang harus terus hidup dalam jiwa perempuan Aceh masa kini.
Sebagai kader muda Partai Golkar, Diana hadir membawa warna baru di parlemen Aceh. Sosoknya yang energik, dekat dengan masyarakat, dan aktif turun ke lapangan menjadikannya figur perempuan muda yang dinilai memiliki semangat besar dalam membangun Aceh. Meski menjadi anggota termuda dari 81 legislator DPRA, Diana menunjukkan bahwa usia muda bukan hambatan untuk bekerja nyata bagi rakyat.
Di tengah dinamika politik yang penuh tantangan, Diana memilih tetap konsisten memegang prinsip disiplin, kepedulian, dan keberanian. Baginya, seorang wakil rakyat tidak cukup hanya hadir di gedung dewan, tetapi harus hadir dalam denyut kehidupan masyarakat, memahami kebutuhan mereka, serta menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi rakyat sehari-hari.
Keikutsertaannya dalam latihan menembak bersama Brimob Polda Aceh pun menjadi simbol bahwa ketangguhan mental, fokus berpikir, dan kedisiplinan adalah bagian penting dari kepemimpinan. Diana Putri Amelia ingin memastikan bahwa setiap langkah pengabdiannya tetap terarah: setia melayani masyarakat, menjaga amanah rakyat, dan terus berjuang menghadirkan manfaat nyata bagi Aceh, khususnya masyarakat dataran tinggi Gayo.
*Diana Putri Amelia tampil penuh semangat dan keramahan saat mengikuti latihan menembak di Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satuan Brimob Polda Aceh. Dengan paras cantik dan senyum hangat, Diana menyapa satu per satu pelatih serta personel Brimob yang hadir. Dalam kegiatan tersebut, Diana turut didampingi tim sahabatnya, Dr.Juliana,MM Dr,surtati,M.Pd, serta mendapat pendampingan langsung dari Danki Kompi 1 Batalyon A Pelopor, Iptu Musmulyadi, S.E., M.Si, yang memberikan arahan selama latihan berlangsung
Iptu Musmulyadi, S.E., M.Si, turut memberikan waktu dan tempat dengan penuh keterbukaan serta selalu hadir mendampingi selama latihan berlangsung. Pendampingan tersebut menjadi bentuk dukungan dalam membangun semangat disiplin, fokus, dan kebersamaan di tengah kegiatan yang berlangsung penuh kekeluargaan[]
































